Kualitas Literasi Pendidikan Anak Usia Dini

Kualitas Literasi Pendidikan Anak Usia Dini

Saat berbicara di JIC dalam forum guru PAUD se-DKI, Presiden Jokowi menggulirkan angin segar bagi para pendidik usia emas ini. Presiden mengatakan bahwa akan ada alokasi dana untuk tambahan kesejahteraan guru PAUD berdasarkan payung hukum Perpres No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Pidato Jokowi tersebut ibarat titik terang bagi penantian panjang guru PAUD untuk disejajarkan dengan guru tingkat pendidikan formal.

Bagi saya pribadi, speech Presiden Joko Widodo yang menarik adalah bahwa PAUD (dan sederajat) disebut sebagai bagian Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK sendiri dalam Perpres disebutkan sebagai:

“Gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM)”

Bagaimana dengan posisi PAUD? Keterangan lanjutan Pasal I Perpres pada poin 3 dan 5 menyebutkan bahwa PAUD dapat disebut sebagai Satuan Pendidikan Nonformal, yaitu kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur pendidikan nonformal atau di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

Sebutan bagian PPK bukanlah hal sembarangan yang sekarang disandang seluruh pengelola PAUD (dan sederajat) se Indonesia. Sorotan publik sudah barang lazim akan mulai mengarah pada PAUD dan pengelolaannya. Kata “karakter” yang terus menerus didengungkan saya rasa sudah waktunya untuk diurai dan diimplementasikan dalam jalur PAUD. Tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk melihat salah satu bagian karakter yang harus terbangun sejak dini, yaitu literasi.

Literasi dalam pemahaman lama disamakan dengan istilah melek huruf dan keaksaraan. Kita tahu hari ini literasi telah mengalami perluasan makna sedemikian rupa sebagai sebuah kemampuan dasar manusia untuk memahami, menganalisis dan mengolah informasi dalam dan untuk kehidupan. Menghargai dan mencintai buku adalah salah satu masyarakat dengan literasi yang baik. Pertanyaannya adalah bagaimana kita melihat bahwa kemampuan tersebut ditanam dan dipupuk sejak anak-anak masuk PAUD?

Setiap orang tua berbicara tentang kualitas sekolah dan mencoba menimbang dan membandingkannya sebelum memasukkan anak-anak mereka. Jamak kita melihat dan mendengar bangunan gedung sekolah sebagai faktor utama kualitas sekolah, biasanya ditambah dengan fasilitas lain dan ditunjang biaya sekolah yang wow. Sedikit orangtua yang mau turun ke sekolah dan melihat secara langsung apakah fasilitas sekolah tersebut menunjang kompetensi anak-anak mereka, terutama dalam hal literasi.

Berikut saya rangkumkan beberapa teknik yang harus digunakan untuk menstimulasi dan memberi dukungan literasi anak usia dini (AUD). Ketujuh strategi ini telah didukung teori dan dibuktikan dalam penelitian. Kita (baik sebagai orangtua ataupun sebagai guru PAUD) harusnya mulai mengecek ulang dan mengevaluasi pendekatan dan strategi yang telah kita gunakan untuk anak-anak kita.

1) Membaca dengan keras dan banyak berbicara

Guru dan orang tua sering kesulitan menemukan formula terbaik untuk menanamkan literasi dengan megenalkan buku dan menyampaikan informasi kepada anak-anak. Membaca buku dengan keras merupakan hal sederhana yang dapat menarik minat anak untuk mengetahui hal-hal dalam buku. Anak saya selalu penasaran dengan jajaran huruf dalam buku dan terlihat senang jika saya mulai membacakan buku untuknya.

Fokus dia juga terlihat sangat baik untuk memperhatikan tema-tema, asalkan tema tersebut cukup menarik bagi dia. Oleh karena itu pilihlah buku yang sesuai dengan minat anak agar terjadi proses yang disebut dialogue reading.  Dialogue reading merupakan percakapan alami tentang buku yang dibaca untuk menjelaskan, membuat anak merasa mengalami, menarik perhatian, serta meningkatkan pengalaman mereka.

Penelitian menunjukkan data bahwa membaca dengan keras dapat membantu anak-anak membangun kosa kata, konsep, dan kecerdasan. Sepertinya kita harus memasukkan aktivitas tersebut dalam kotak chekc list untuk mengukur kualitas pembangunan literasi di PAUD.

2) Menempelkan logo huruf di sekitar ruang kelas/rumah

Menempelkan berbagai media di sekitar ruang belajar adalah cara yang tepat untuk mengenalkan secara langsung dan setiap saat kepada anak-anak. Melihat label huruf, angka dan tanda baca di sekitarnya (apalagi dalam bentuk dan warna yang menarik) adalah sebuah pengalaman yang menarik bagi setiap anak.

Mereka akan secara langsung terpapar dengan berbagai simbol aksara dan mulai mengenalinya sebagai simbol. Tugas guru (dan orangtua) kemudian adalah memberikan stimulasi yang menarik dengan menghubungkan simbol-simbol tersebut dalam kehidupan anak sehari-hari. Misalnya menggunakan kursi untuk mengenali angka 4. Guru juga bisa menggunakan kartu atau stiker yang bergambar huruf –dengan berbagaai modifikasi, untuk mengenalkan anak-anak pada aksara.

Keterpaparan berulang terhadap label akan sangat menyenangkan bagi anak-anak berusia 2 sampai 4 tahun yang memungkinkan mereka mengenali kata-kata penglihatan untuk membangun fondasi untuk membaca. Strategi ini memungkinkan AUD untuk mempelajari konsep tentang apa itu sebuah kata, membaca petunjuk saat melihat logo yang ditempel, dan bahkan menguasai dasar-dasar untuk mengeluarkan sebuah kata melalui penggunaan tindakan langsung dan teknik multisensori untuk membaca label.

 

About The Author