Analisis Sistem Building Automation System

building automation systemPenerapan sistem building automation system pada sistem HVAC ini dilakukan dengan melakukan monitoring dan pengontrolan pada peralatan yang terhubung dengan sistem HVAC, Adapun analisis unjuk kerja sistem BAS dapat dibagi menjadi lima bagian , yaitu :

Pada Pabrik “X” untuk memenuhi kebutuhan pengkondisian udara digunakan Chiller yang memiliki kemampuan mensuplai air dingin dan air panas pada satu mesin chiller. Unit pendingin utama yang di gunakan adalah 3 unit Air Cooled Water Chiller dimana masing-masing unit beroperasi sesuai dengan kapasitas kalori masing-masing chiller. Sehingga untuk melakukan pengontrolan pada chiller maka kita harus mengetahui terlebih dahulu kapasitasnya tersebut.  Adapun perhitungan kapasitas kalori masing – masing chiller adalah sebagai berikut : Chiller yang digunakan adalah sebesar masing-masing 120 TR (Ton Refrigrant), dimana 1TR = 3.024 kalori maka 1 chiller akan menghasilkan sebanyak 120 TR x 3.024 kalori = 362.880 Kkalori Untuk ketiga chiller yang dipakai maka akan dihasilkan sebanyak 360 TR x 3.024 kalori = 1088,640 Kkalori = 1,089 Mkalori

Hasil diatas adalah jumlah kalori yang mampu disediakan oleh semua

chiller.

Adapun perhitungan kalori yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi lapangan adalah sebagai berikut :

Cal = ( T1 – T2 ) x F

dimana Cal : Kalori yang dibutuhkan T1 : Temperatur air balikan ( water return) berdasarkan pengukuran sensor suhu di saluran air balikan yang menuju chiller. T2 : Temperatur suplai air ( water supply) berdasarkan fixed set yang disetting pada chiller. F   : Kecepatan laju aliran air ( water flow) berdasarkan pengukuran sensor flow meter di saluran suplai air yang berasal dari chiller.

Schematic Pendistribusian Udara pada Chiller Pengontrolan chiller tersebut dilakukan dengan  melakukan monitoring dan pengontrolan pada bagian :  Water Flow Switch berfungsi sebagai status aliran air yang disuplai oleh pompa, ini merupakan prosedur untuk memastikan bahwa sebelum mesin chiller dihidupkan suplai air telah tersedia. dalam instalasi BAS terhubung pada point digital input.  Pressure Transmitter berfungsi memonitoring nilai tekanan pada saluran suplai air ke chiller sehingga nilainya sesuai dengan setpoint,terhubung pada point analog input.  Flow meter untuk mengetahui nilai dari flow air yang mengalir pada header chiller ,terhubung pada point analog input.  Sensor temperatur untuk monitoring temperatur pada header chwp return. Penggunaan kapasitas kalori yang disediakan oleh chiller sebagai dasar pengontrolan Chiller merupakan cara yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan timer untuk pergantian operasi chiller. Hal ini dikarenakan pengontrolan chiller berdasarkan kapasitas kalori dapat menjaga agar operating time semua chiller sama sehingga umur chiller dapat lebih lama dan mengoptimalkan kerja chiller sesuai kebutuhan dalam ruangan.

Air Handling Unit  yang digunakan pada ruang produksi pabrik “X” adalah sebanyak tiga unit.  AHU di gunakan untuk mengkondisikan fresh air (udara segar) dari udara luar yang akan di distribusikan sebagai tambahan udara segar untuk ruangan pabrik.

Dalam sistim building automation system ini pengontrolan pada AHU dilakukan dengan  melakukan monitoring dan pengontrolan pada bagian : AFS (Air Flow switch) berfungsi sebagai status fan dan terhubung pada point digital input. Start/stop berfungsi untuk mengoperasikan fan AHU dan terhubung pada digital output, hanya dilakukan secara two-position control saja (On-Off) berdasarkan pada perbedaan kondisi ruangan pabrik  dari nilai setpoint temperature dan setpoint humidity. Sensor temperatur pada suplai dan return AHU hanya untuk monitoring saja dan terhubung pada poin analog input. Motorized valve berfungsi untuk membatasi jumlah air chiller yang masuk kedalam coil AHU. Dalam instalasi BAS terhubung pada point analog output.

efisiensi kerja AHU-M1A sebesar = 100% 45,8% 15 21,87 15  x hal ini berarti bahwa AHU tersebut mampu menurunkan suhu udara sebesar 45,8%. Pada Gambar 4.4 didapat bahwa untuk AHU-M1B memiliki nilai rata-rata

efisiensi kerja AHU-M1B sebesar = 100% 38% 16,2 22,35 16,2 x  hal ini berarti bahwa AHU tersebut mampu menurunkan suhu udara sebesar 38%. Pada Gambar 4.5 didapat bahwa untuk AHU-M1C memiliki nilai rata-rata

efisiensi kerja AHU-M1C sebesar = 100% 42,86% 16,73 23,89 16,73 x hal ini berarti bahwa AHU tersebut mampu menurunkan suhu udara sebesar 42,86%. Perbedaan nilai efisiensi yang kerja pada AHU tersebut dikarenakan adanya rugi-rugi yang terjadi pada ducting, pendistribusian udara di gedung dengan building automation system.

Tags:

About The Author